Beberapa ayat tentang sifat-sifat pemimpin

SIFAT-SIFAT PEMIMPIN

Rasulullah saw diutus ke dunia tidak hanya sekedar untuk memberikan pengajaran tentang akidah, ibadah, dan akhlak. Beliau diutus dengan membawa risalah yang agung untuk ditegakkan di atas panji-panji kepemimpinan di seluruh dunia. Bertahun-tahun beliau memimpin ummat dan berjuang menegakkan sebuah tatanan politik Islam yang berlandaskan keadilan.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau berjuang bersama rakyatnya bahu membahu tanpa kenal lelah untuk kesejahteraan rakyatnya. Karena sadar bahwa kepemimpinan bukanlah sekedar ikatan kontrak politik antar pemimpin dan yang dipimpinnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara pemimpin terpilih dengan Allah.
Untuk itu, setiap pemimpin hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai syari’at di dalam setiap pengambilan kebijakan dan menjadikan semua sifat-sifat yang ada pada diri Rasulullah saw. sebagai landasan berperilaku, bergerak, dan berjuang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Hal ini sebagai bukti kecintaan setiap pemimpin kepada Rasulullah sebagai pemimpin terbesar sepanjang sejarah manusia yang patut ditiru dan diikuti oleh setiap pribadi muslim terutama bagi setiap orang yang ingin meraih keberhasilan dalam kepemimpinannya..
Dalam Al-Qur-an surat Ali-Imran ayat 3, Allah berfirman:
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memberikan keterangan mengenai sifat pemimpin yang benar-benar mencintai Allah berarti dia akan ittiba (mengikuti) kepada Rasulullah Muhammad saw.
Mengenai surat Ali Imran ayat 31 ini Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad saw, maka dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu sampai dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dalam semua ucapan dan perbuatannya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Rasulullah saw, beliau bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”
Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: ……………………………………………………
“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” Maksudnya , kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah:
“Yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tapi permasalahannya ialah jika engkau dicintai.”
Sedangkan al-Hasan al-Bashri dan beberapa ulama Salaf berkata: “Ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, lalu allah menguji mereka melalui ayat ini, di mana Dia berfirman: ……………………………………………………………….’Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”’
Setelah itu Dia berfirman: …………………………………………… .”Dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” Maksudnya, dengan mengikutinya kalian kepada Rasulullah sawe, maka kalian akan memperoleh hal tersebut (pengampunan dosa) berkat keberkahan perantara-Nya (Rasul-Nya).
Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu: ……………………………………………….Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, yakni melanggar perintah-Nya ……………………………….. Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”., Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah saw, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia.

Al-Qur-an surat Ali-Imran ayat 59:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia.”

Tafsir Ibnu Katsir tentang surat Ali Imran ayat 59:

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah.”Maksudnya dalam kekuasaan Allah, ketika Dia menciptakan ‘Isa tanpa adanya seorang ayah, “Adalah seperti (penciptaan) Adam. “Di mana Adam diciptakan dengan tidak melalui seorang ayah maupun seorang ibu, tetapi “Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah, ‘maka jadilah ia. “Maka Allah yang telah menciptkan Adama tanpa adnaya ayah, pasti Dia lebih layak mampu menciptakan ‘Isa, dilihat dari teori kelayakan.
Jika pengakuan terhadap ‘Isa anak allah itu dibolehkan, karena ia diciptakan tanpa ayah, maka pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb lebih layak lagi untuk dibolehkan. Sebagaimana diketahui secara sepakat, bahwa pengakuan terhadap diri adam sebagai anak Rabb adalah bathil, maka pengakuan terhadap ‘Isa sebagai anak Rabb adalah lebih bathil jelas kerusakannya.
Namun Allah ‘Azza Wa Jalla ingin memperlihatkan kekuasan-Nya bagi semua makhluk-Nya, ketika Dia menciptakan Adam tidak melalui seorang laki-laki maupun wanita, dan menciptakan Hawamelalui seorang laki-laki tanpa wanita, serta Dia menciptakan ‘Isa melalui seorang wanita tanpa laki-laki, sedang Dia menciptakan manusia lainnya melalui laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, Dia berfirman dalam surat Maryam: “Sungguh Kami akan menjadikannya sebagai tanda kebesaran bagi manusia.” (QS. Maryam: 21) sementara di sini, Dia berfirman: “(Apa yang telah Kami ceritakan) itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” Maksudnya, itulah ucapan yang benar mengenai diri ‘Isa as. yang tidak penyimpangan di dalamnya dan tidak ada pula yang benar selain itu, maka tidak ada hal lain setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.

Al-Qur-an surat Ali-Imran ayat 79-80:
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani [ialah orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Ayat 79

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.” Ayat 80

Tafsir Ibnu Katsir pada surat Ali Imran ayat 79-80:

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Ketika para pendeta kalangan Yahudi dan Nashrani dari penduduk Najran berkumpul di tempat Rasulullah SAW dan mengajak mereka kepada Islam, Abu Rafi’ al-Qurazhi berkata: ‘Wahai Muhammad, apakah engkau menginginkan kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Nasrani itu menyembah ‘Isa bin Maryam?’ Lalu seseorang dari penduduk Najran yang menganut agama Nasrani, disebut ar-Ra-is berkata: ‘Apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, wahai Muhammad, dan apa untuk itu pula engkau menyeru kami?’ Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah atau menyuruh menyembah selain Allah. Bukan untuk itu Dia mengutusku dan bukan itu pula yang Dia perintahkan kepadaku.’ Atau senada dengan hal ini. Karena ucapan kedua orang inilah, Allah SWT menurunkan ayat:
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.

Firman-Nya:
……..“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” ‘Maksudnya, tidak pantas bagi orang yang telah allah turunkan kepadanya kitab, hikmah, dan kenabian untuk mengatakan kepada manusia: “Beribadahlahkepadaku di smaping beribadah kepada allah. “Jika hal itu tidak dibenarkan bagi seorang Nabi dan Rasul, maka lebih tidak dibenarkan lagi dilakukan oleh orang yang bukan Nabi dan Rasul. Oleh karena itu al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Tidak pantas bagi seorang Mukmin menyuruh manusia menyembah dirinya, yang demikian itu karena ada satu kaum yang sebagian mereka menyembah menyembah lainnya, yaitu Ahlul Kitab, mereka menyembah para pendeta dan rahib mereka. “Sebagaimana Allah SWT berfirman: …………………………………………………………………………….. “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31).
Dalam kitab al-Musnad dan Sunan at-tirmidzi, sebagaimana akan dijelaskan bahwa ‘Adi bin Hatim berkata:
“Ya Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta dan rahib.” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan mereka (para pendeta dan rahib itu) menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu mereka pun mengikutinya. Maka yang demikian itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka.”

Orang-orang bodoh dari kalangan para pendeta dan rahib serta pemuka kesesatan termasuk dalam kecaman dan celaan ini. Berbeda dengan para Rasul dan pengikutnya dari kalangan ulama yang konsisten, mereka hanya menyuruh kepada apa yang diperintahkan Allah serta apa yang disampaikan oleh para Rasul yang mulia. Merka juga melarang apa yang dilarang oleh Allah dan apa yang disampaikan oleh para Rasul. Karena, para Rasul merupakan duta antara Allah dan makhluk-Nya dalam menunaikan risalah yang mereka bawa serta menyampaikan amanat. Mereka melaksanakan tugasnya itu dengan amat baik dan sangat sempurna, menasehati ummat manusia dan menyampaikan kebenaran kepada mereka.
Firman-Nya: “Akan tetapi (dia berkata): ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” “Artinya, Rasulullah s.a.w. mengatakan kepada ummat manusia: “Jadilah kalian hamba-hamba rabbani.”
Ibnu ‘Abbas, Abu Razin, dan ulama lainnya berkata: “Jadilah orang-orang bijak, para ulama dan orang-orang yang bersabar.”
Sedangkan al-Hasan dan ulama lainnya berkata: “Jadilah fuqaha (orang-orang yang faham tentang agama).”
Hal yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani, ‘Athiyyah al-‘Aufi, dan ar-Rabi’ bin Anas.
Diriwayatkan pula dari al-Hasan bahwa maknanya adalah ahli ibadah dan ahli takwa.
Mengenai firman-Nya: “Karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya,” adh-Dhahak berkata: “Suatu hal yang wajib bagi orang yang belajar al-Qur-an untuk menjadi seorang faqih, artinya kalian memahami maknanya.” Dan kata ini dibaca dengan cara ditasydidkan, karena berasal dari kata . “Dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya.” Maksudnya, kalian menghafal lafazh-lafzhnya.
Selanjutnya Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruh kamu menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb.” Yakni tidak patut ia menyuruh kalian untuk menyembah seseorang selain Allah, baik itu Nabi, Rasul yang diutus, ataupun Malaikat yang didekatkan. “Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” Artinya tidak ada yang melakukan hal seperti itu kecuali orang yang menyeru kepada penyembahan selain allah. Orang yang menyeru kepada penyembashan selain Allah berarti ia telah mengajak kepada kekafiran. Sedangkan para Nabi hanya memerintahkan untuk beriman, yaitu beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Al-Qur-an surat Al-Ahzab ayat 36:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s